artikel Kesnak Tutorial Kesehatan Ternak

Penanganan Cepat Sapi Ambruk

Tindakan Yang Harus dilakukan

  1. Pindahkan ke lokasi yang nyaman (jika memungkinkan), jika sapi ambruk dan tidak bisa berdiri akibat kepanasan langkah yang tepat untuk menangani atau mengobatinya adalah dengan jalan menghindarkan dan mengusahakan agar kondisi lingkungan yang panas tersebut dapat teratasi dengan memindahkan sapi ke tempat yang lebih teduh.
  2. Pastikan untuk memeriksa lantai atau pijakan kaki di kandang sapi ternak. Usahakan lantai tidak licin atau buatlah permukaan lantai menjadi sedikit lebih kasar. Lantai kandang ternak juga tidak boleh miring, karena akan menghilangkan keseimbangan sapi ternak ketika berdiri.
  3. Hubungi Dokter Hewan yang berwenang, untuk dilakukan pemeriksaan. Kenapa harus dokter hewan, karena hanya dokter hewan yang memiliki kewenangan diagnosa bukan bukan mantri.
  4. Berikan Penanganan Medis Darurat sembari menunggu kedatangan dokter hewan. Penanganan Medis darurat dengan memperhatikan penyebab ambruknya,
  5. Untuk sapi ambruk karena terserang penyakit harus diperiksa terlebih dahulu penyakit apa yang menyerangnya. Hal ini dilakukan agar dapat dilakukan pengobatan yang tepat sebelum penyakitnya semakin parah. Ada pengobatan tertentu untuk penyakit sapi ambruk. Usahakan jenis pengobatan ini tepat agar sapi ternak tidak mengalami komplikasi lainnya seperti luka dan kembung perut. Selain itu, berikan alas tidur berupa karpet atau jerami yang lebih tebal dari biasanya agar sapi ternak merasa nyaman dan hangat ketika tidur. Sebaiknya gunakan Booster Metabolisme. ikuti sop cardiofit.
  6. Sapi ambruk yang tidak dapat berdiri karena kekurangan zat gizi mineral, cara menanganinya adalah dengan Booster Metabolisme cardiofit, ikuti sop cardiofit.
  7. Jika ambruk karena heat stress/cuaca panas maka jalan yang terbaik adalah dengan memindahkan sapi ke tempat yang benar-benar teduh, jika perlu dibantu dengan fan/kipas angin besar agar sirkulasi udara lebih lancar. Pencegahan ambruk saat cuaca panas adalah dengan pemberian elektrolit pada air minum secara rutin setiap hari. Pemberian hijauan diperbanyak dan pemberian konsentrat yang berenergi tinggi agak dikurangi jumlahnya. Berikan Booster MetabolismeCardiofit, untuk meningkatkan metabolisme dan daya tahan tubuhnya.
  8. Jika ambruk karena keracunan pakan alternatif penanganannya adalah sapi diberi minum banyak-banyak untuk membersihkan rumen dan jika perlu juga diberikan obat pencahar. Usahakan semua cairan rumen bisa bersih keluar semua. Berikan Booster MetabolismeCardiofit, untuk meningkatkan metabolisme dan daya tahan tubuhnya.
  9. Jika sapi ambruk karena tarung, pisahkan sapi yang ambruk pada kandang karantina, periksa seluruh tubuh sapi apakah ada luka atau ada tulang patah, jika semua aman beri minum sapi dengan air plus elektrolit. Dan yang terpenting jangan mencampurkan lagi sapi tersebut jika sudah sehat dengan sapi-sapi dari kandang yang sama karena kemungkinan besar akan tarung lagi dengan yang lain. Berikan Booster MetabolismeCardiofit, untuk meningkatkan metabolisme dan daya tahan tubuhnya.

Penyakit Sindrom Sapi Ambruk (SSA)

Penyakit Sindrom Sapi Ambruk (SSA) merupakan penyakit yang sering di derita oleh sapi di Indonesia dengan angka kerugian yang cukup tinggi di kalangan peternak. Banyak peternak yang belum paham akan pentingnya penyakit ini karena keterbatasan informasi dan pengetahuan.

PENYEBAB

1.Faktor Penyakit Merupakan faktor penyebab utama banyak ternak sapi yang tiba-tiba ambruk karena kepayahan akibat penyakit yang menyerangnya. Diantaranya :
 a.Penyakit Demam 3 Hari
 b.Penyakit Kembung (bloat)
 c.Penyakit MCF
 d.Milk Fever (demam susu).
 e.Cedera otot ataupun saraf
 f.Penyakit lainnya seperti anthrak, dll.
   
2 Faktor Cuaca Panas
  Salah satu faktor alam yang sangat signifikan mempengaruhi industri peternakan sapi adalah kemarau/panas. Kemarau panjang mengakibatkan ketersediaan hijauan yang jauh berkurang sehingga peternak terpaksa memberi pakan sapinya “asal kenyang” dan “asal makan” dengan bahan pakan seadanya. Kekurangan hijauan sebagai pakan utama sapi sangat berpengaruh terhadap daya tahan sapi terhadap panas.
  Panas tinggi saat musim kemarau mengakibatkan sapi harus ekstra keras mempertahankan suhu tubuhnya agar tetap normal, salah satu yang dilakukan sapi adalah dengan “panting” atau “menggos” sebagai efek perlawanan tubuh terhadap panas. Menggos atau panting yang terus menerus dan jangka lama bisa mengakibatkan ternak kelelahan dan pada akhirnya bisa menyebabkan ternak rubuh/ambruk Seyogyanya saat cuaca terlalu panas, waspadai panting pada sapi
  Parameter yang bisa digunakan untuk melihat kejadian heat stress; frekuensi nafas melebihi 80 kali/ menit, suhu tubuh meningkat diatas 39,2 °C, menurunya asupan bahan kering (dry matter intake).
3Gizi Buruk (Malnutrisi dalam hal ini kekurangan kalsium, selenium, magnesium dan lain lain)
4Faktor Keracunan PakanFaktor lain yang bisa berakibat sapi ambruk/rubuh adalah adanya keracunan pakan. Akibat keracunan pakan metabolisme sapi tidak normal. Jika keracunan dalam taraf yang akut atau parah maka kerja Jantung dan paru-paru akan sangat terganggu sehingga bisa berujung sapi menjadi ambruk/rubuh.
5Karena Sebab Lain
  Saat pengangkutan sapi terlalu penuh, melebihi kapasitas alat angkut/truk
  Saat menurunkan sapi tidak ada loading sehingga sapi harus loncat yang bisa mengakibatkan patah kaki yang berujung downer/ambruk
  Penanganan yang kasar seperti pemukulan pada daerah kaki sapi yang terlalu keras tidak mengindahkan kesejahteraan hewan (animal welfare

Stadium Sapi Ambruk

1.Stadium 1 (stadium prodromal).
 Penderita jadi gelisah dengan ekspresi muka yang tampak beringas. Nafsu makan dan pengeluaran kemih serta tinta terhenti. Meskipun ada usaha untuk berak akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil. Sapi mudah mengalami rangsangan dari luar dan bersifat hipersensitif. Otot kepala maupun kaki tampak gemetar. Waktu berdiri penderita tampak kaku, tonus otot alat-alat gerak meningkat dan bila bergerak terlihat inkoordinasi. Penderita melangkah dengan berat, hingga terlihat hati-hati dan bila dipaksa akan jatuh, bila jatuh usaha bangun dilakukan dengan susah payah dan mungkin tidak akan berhasil.
2.tadium 2 (stadium berbaring/recumbent)..
 Sapi sudah tidak mampu berdiri, berbaring pada sternum dengan kepala mengarah ke belakang hingga dari belakang seperti huruf S. Karena dehidrasi kulit tampak kering, nampak lesu, pupil mata normal atau membesar dan tanggapan terhadap rangsangan sinar jadi lambat atau hilang sama sekali. Tanggapan terhadap rangsangan rasa sakit juga berkurang, otot jadi kendor, spincter ani mengalami relaksasi, sedang reflek anal jadi hilang dengan rektum yang berisi tinja kering atau setengah kering. Pada stadium ini penderita masih mau makan dan proses ruminasi meskipun berkurang intensitasnya masih dapat terlihat. Pada tingkat selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu makan pun hilang dan penderita makin bertambah lesu. Gangguan sirkulasi yang mengikuti akan terlihat sebagai pulsus yang frekuen dan lemah, rabaan pada alat gerak terasa dingin dan suhu rektal yang bersifat subnormal
3.Stadium 3 (stadium koma).
 Penderita tampak sangat lemah, tidak mampu bangun dan berbaring pada salah satu sisinya (lateral recumbency). Kelemahan otot-otot rumen akan segera diikuti dengan kembung rumen. Gangguan sirkulasi sangat mencolok, pulsus jadi lemah (120 x/menit), dan suhu tubuh turun di bawah normal. Pupil melebar dan refleks terhadap sinar telah hilang. Stadium koma kebanyakan diakhiri dengan kematian, meskipun pengobatan konvensional telah dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *